JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl
Program Studi Teknik Lingkungan, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riauen-USJOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY2829-8535ANALISIS STATUS MUTU AIR DAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR SUNGAI (STUDI KASUS: SUNGAI SEKANAK, 22 ILIR, KOTA PALEMBANG)
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl/article/view/45
<p>Status mutu air sungai saat ini telah mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah tata guna di sekitar sungai. Tata guna lahan di sekitar Sungai Sekanak meliputi permukiman penduduk, sekolah, dan pasar. Tercemarnya air sungai terindikasi diakibatkan limbah yang dihasilkan dari aktivitas pemukiman yang langsung dibuang ke badan sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kualitas air Sungai Sekanak, menghitung beban pencemaran dari parameter pH, suhu, TSS, BOD, COD, dan kadmium di Sungai Sekanak, menentukan daya tampung beban pencemaran Sungai Sekanak menggunakan metode neraca massa, dan menentukan status mutu Sungai Sekanak menggunakan metode indeks pencemaran. Pengambilan sampel ditentukan dengan penentuan 2 titik sampling. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif dengan membandingkan baku mutu kualitas air berdasarkan lampiran VI PP RI No. 22 Tahun 2021. Berdasarkan hasil perhitungan status mutu air sungai menunjukkan Sungai Sekanak telah tercemar ringan. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran parameter BOD dan COD yang telah melebihi baku mutu. Hasil perhitungan beban pencemar parameter BOD sebesar 132,48 kg/hari dan parameter COD sebesar 624,3 kg/hari dimana hal tersebut telah melebihi beban pencemar maksimum. Hasil perhitungan daya tampung parameter BOD dan COD telah melebihi baku mutu, dimana untuk parameter BOD sebesar 6,47 mg/L dan parameter COD sebesar 34,30 mg/L.</p>Mutiara FajarMeia Nur HidayatiResarizki Utami
Copyright (c) 2024 JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
2024-05-202024-05-203111010.31258/jptl.3.1.1-10PENURUNAN SALINITAS AIR PAYAU MENGGUNAKAN BEADS KOMPOSIT CHITOSAN-CLAY
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl/article/view/47
<p>Kualitas air payau yang buruk menyebabkan air payau tidak bisa digunakan sebagai sumber air bersih atau air minum. Salah satu ciri-ciri air payau adalah kandungan salinitas yang cukup tinggi. Kandungan salinitas air payau menunjukkan kadar garam dalam air payau. Proses adsorpsi merupakan alternatif yang dapat digunakan dengan sistem kolom menggunakan manik beads yang mengandung gugus amina dan memiliki kemampuan yang baik dalam mereduksi salinitas. Hasil uji FTIR dan karakterisasi chitosan yang dibuat pada penelitian ini mengandung gugus fungsi chitosan dengan derajat deasetilasi 80,97%, hasil uji kekuatan mekanik 10,65 MPa, dan hasil uji penyerapan air (DSA) untuk beads chitosan clay diperoleh nilai 612,36%. Manik-manik beads juga dikarakterisasi dengan analisis uji SEM untuk mengetahui bentuk morfologi, dihasilkan beads bertekstur kasar dan porous. Tujuan dari penelitian ini adalah menurunkan salinitas pada air payau. Variasi yang dilakukan adalah laju alir 3 mL/menit, 3,5 mL/menit, dan 4,5 mL/menit, dan beads dengan massa 380 g/L, 475 g/L, dan 570 g/L. Hasil penelitian diperoleh efisiensi terbaik sebesar 92,34% untuk penyisihan ion salinitas dengan konsentrasi akhir 1,833 ppt pada laju alir 3 mL/menit dan massa bead 570 g/L.</p>Shinta ElystiaMutia RahmanDewi FitriaGunadi Priyambada
Copyright (c) 2024 JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
2024-05-202024-05-2031112310.31258/jptl.3.1.11-23PENGARUH APLIKASI DOLOMIT DAN ZEOLIT TERHADAP KUALITAS KIMIA TANAH PADA TAMBAK UDANG BERKELANJUTAN
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl/article/view/46
<p>Budidaya udang windu pada tambak kebanyakan masih menggunakan sistem budidaya secara tradisional, sehingga unsur hara yang ada dalam tanah tambak dan tingkat produktivitas tambak tersebut rendah. Salah satu upaya meningkatkan kandungan unsur hara dan produktivitas tambak adalah dengan pemberian pupuk baik organik maupun anorganik. Berdasarkan observasi lapangan salah satu upaya tersebut adalah dengan pemberian dolomit dan zeolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dolomit dan zeolit terhadap kualitas tanah tambak dan produksi udang windu. Penelitian dilakukan pada bak dengan 8 perlakuan yaitu dengan penambahan dolomite dan zeolit dengan dosis 0 ton/ha; 0,5 ton/ha; 1 ton/ha dan 1,5 ton/ha. Masing-masing perlakuan dikombinasikan dengan 3 kali ulangan. Media bak diisi dengan tanah tambak sebanyak 5 kg dengan campuran dolomit dan zeolit berdasarkan masing-masing dosis perlakuan. Penebaran bibit udang dilakukan mulai bulan Agustus sampai November. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh pemberian dolomit dam zeolit dapat meningkatkan pH, kandungan kalium, kalsium, dan magnesium. Penambahan zeolit 0,5 ton/ha dan dolomit 1,5 ton/ha merupakan dosis yang paling baik dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara tanah tambak. Penambahan dolomit dan zeolit berpengaruh terhadap produksi udang windu. Penambahan zeolit 0,5 ton/ha menghasilkan produksi udang 162,73 kg/ha atau menaikkan produksi hingga 15,8% sedangkan dolomit 1,5 ton/ha menghasilkan produksi sebesar 127,80 kg/ha atau menaikkan produksi mencapai 10,5%. </p>Sukron Romadhona
Copyright (c) 2024 JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
2024-05-202024-05-2031243310.31258/jptl.3.1.24-33PENGARUH KETEBALAN MEDIA PASIR KUARSA DAN BATU APUNG PADA PENGOLAHAN AIR GAMBUT
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl/article/view/48
<p>Provinsi Riau memiliki luas lahan gambut terbesar di Pulau Sumatera. Hal ini membuat sebagian besar masyarakat Provinsi Riau memanfaatkan air gambut sebagai sumber air bersihnya. Air gambut memiliki ciri-ciri berwarna coklat kemerahan, kandungan organik tinggi, dan pH rendah sehingga tidak memenuhi baku mutu air bersih. Salah satu alternatif pengolahan air gambut adalah dengan <em>biosand filter</em> dengan berbagai media. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan biosand filter yang terdiri dari tiga media untuk mengolah air gambut yaitu batu apung, pasir kuarsa, dan karbon aktif. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan ketebalan lapisan batu apung dan pasir kuarsa. Sumber air yang digunakan berasal dari sumur warga yang berada di jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru, Riau. Kecepatan aliran rata-rata yang digunakan adalah 0,25 m<sup>3</sup>/m<sup>2</sup>/jam dan ketebalan media karbon aktif 10 cm. Variasi ketebalan batu apung dan pasir kuarsa yang digunakan adalah 40 dan 20, 35 dan 25, 30 dan 30, 25 dan 35, serta 20 dan 40 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>biosand filter</em> pada variasi batu apung 20 cm, pasir kuarsa 40 cm, dan karbon aktif 10 cm, memberikan efisiensi tertinggi dalam meningkatkan nilai pH sebesar 34,95%, menurunkan warna sebesar 92,64%, dan kandungan organik sebesar 92,00%. Hasil ini telah memenuhi standar air bersih sesuai Permenkes nomor 32 tahun 2017, kecuali untuk parameter kandungan organik.</p>Yohanna Lilis HandayaniLita DarmayantiHanifah Julian Desasy
Copyright (c) 2024 JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
2024-05-202024-05-2031344410.31258/jptl.3.1.34-44PRODUKSI BIOETANOL DARI BONGGOL PISANG DENGAN PENAMBAHAN BIJI NANGKA SEBAGAI SUBSTRAT
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl/article/view/50
<p>Bioetanol merupakan salah satu bioenergi yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan adalah bonggol pisang dan biji nangka. Bonggol pisang dan biji nangka merupakan salah satu bahan yang mengandung potensi yang cukup besar sebagai bahan dasar bioetanol berdasarkan ketersediaan komponen-komponen tertentu (pati dan selulosa) yang dikandungnya. Kandungan pati dan selulosa yang terdapat pada bonggol pisang dan biji nangka dapat diubah menjadi bioetanol melalui proses hidrolisis dan fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis bioetanol dari bonggol pisang dan biji nangka, menentukan pengaruh kombinasi campuran bonggol pisang dan biji nangka terhadap konsentrasi glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis dan bioetanol yang dihasilkan dari proses fermentasi. Penelitian ini dimulai dengan pretreatment bahan baku (pencucian, pemotongan, pengeringan) dengan variasi komponen bonggol pisang dan biji nangka 100% : 0%, 75% : 25%, 50% : 50%, 25% : 75%, 0% : 100% serta variasi massa pati 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Lalu proses hidrolisis menggunakan H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub> pada waktu 1 jam dengan suhu 95˚C-100˚C. Kemudian hasil hidrolisis difermentasi menggunakan <em>Saccharomyces cerevisiae. </em>Proses fermentasi berlangsung selama 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam dan 120 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi bioetanol terbesar diperoleh pada komponen 50% : 50% dengan massa pati 100 gram sebesar 7% (v/v).</p>Sri HeliantyZuqni MeldaZamri FadilahSri Rezeki MuriaRozana Sri Irianty
Copyright (c) 2024 JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
2024-05-202024-05-2031455410.31258/jptl.3.1.45-54PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH DAN AGREGAT SAMPAH PLASTIK STIROFOAM (EXPANDED POLYSTYRENA FOAM) PADA PAVING BLOK DENGAN MUTU D
https://jptl.ejournal.unri.ac.id/index.php/jptl/article/view/49
<p>Paving blok merupakan suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis lainnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan yang tidak mengurangi mutu beton. Stirofoam adalah material dari polistirena yang termasuk golongan plastic. Fly ash batubara merupakan salah satu limbah sisa pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dapat dimanfaatkan dalam industri pembangunan. Komponen utama yang terdapat dalam fly ash yaitu SiO<sub>2</sub> dan Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> sehingga ia bersifat pozzolan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah stirofoam sebagai bahan penganti agregat pasir dan limbah fly ash batubara sebagai bahan pengganti semen dalam campuran pembuatan paving blok. Kualitas paving blok ditentukan dengan pengujian kuat tekan sesuai dengan mutu D. Penelitian ini dirancang dengan perbandingan campuran semen dan agregat pasir, dengan variasi stirofoam 15%, 20%, 25%, penambahan fly ash 5% dengan dimensi cetakan panjang 10 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 5 cm. Variabel terikat yaitu nilai kuat tekan yang mengacu pada SNI 03-0691-1996. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paving blok dengan pemakaian stirofoam mempengaruhi nilai kuat tekan pada variasi 15% yaitu 4,90 MPa pada penyimpanan 14 hari dan dan 5,02 MPa pada penyimpanan 28 hari. Berdasarkan pengujian dan dibandingkan dengan SNI 03-0691-1996 paving blok pada penelitian ini masih belum memenuhi baku mutu D yang ditentukan.</p>Muhammad RezaJecky AsmuraSyamsu HermanMuhammad Iwan FermiSyarfi DaudIs Ad Wahyu Syahlendri
Copyright (c) 2024 JOURNAL OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AND TECHNOLOGY
2024-05-202024-05-2031556210.31258/jptl.3.1.55-62